Sabtu, 27 Juni 2015

Sistem Pendukung Keputusan Dengan Metode Simple Additive Weighting (SAW )

     Metode Simple Additive Weighting (SAW) sering juga dikenal istilah metode penjumlahan terbobot. Konsep dasar metode SAW adalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut (Fishburn, 1967) (MacCrimmon, 1968).
Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada. Metode ini merupakan metode yang paling terkenal dan paling banyak digunakan dalam menghadapi situasi Multiple Attribute Decision Making (MADM). MADM itu sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif dengan kriteria tertentu.
Metode SAW ini mengharuskan pembuat keputusan menentukan bobot bagi setiap atribut. Skor total untuk alternatif diperoleh dengan menjumlahkan seluruh hasil perkalian antara rating (yang dapat dibandingkan lintas atribut) dan bobot tiap atribut. Rating tiap atribut haruslah bebas dimensi dalam arti telah melewati proses normalisasi matriks sebelumnya.

Langkah Penyelesaian Simple Additive Weighting (SAW)

Langkah Penyelesaian SAW sebagai berikut :
1. Menentukan kriteria-kriteria yang akan dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan, yaitu Ci.
2. Menentukan rating kecocokan setiap alternatif pada setiap kriteria.
3. Membuat matriks keputusan berdasarkan kriteria(Ci), kemudian melakukan normalisasi matriks berdasarkan persamaan yang disesuaikan dengan jenis atribut (atribut keuntungan ataupun atribut biaya) sehingga diperoleh matriks ternormalisasi R.
4. Hasil akhir diperoleh dari proses perankingan yaitu penjumlahan dari perkalian matriks ternormalisasi R dengan vektor bobot sehingga diperoleh nilai terbesar yang dipilih sebagai alternatif terbaik (Ai)sebagai solusi.

Formula untuk melakukan normalisasi tersebut adalah :



 

 

Dimana :
rij = rating kinerja ternormalisasi
Maxij = nilai maksimum dari setiap baris dan kolom
Minij = nilai minimum dari setiap baris dan kolom
Xij = baris dan kolom dari matriks
Dengan rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i =1,2,…m dan j = 1,2,…,n.


Nilai preferensi untuk setiap alternatif (Vi) diberikan sebagai :

 

Dimana :
Vi = Nilai akhir dari alternatif
wj = Bobot yang telah ditentukan
rij = Normalisasi matriks
Nilai Viyang lebih besar mengindikasikan bahwa alternatifAi lebih terpilih
 



Contoh Kasus
 

 
 
 
 
 
 

Minggu, 21 Juni 2015

Pengertian Metode AHP

Pada dasarnya AHP adalah metode pengambilan keputusan dengan cara memecah suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompok-kelompok dan mengaturnya ke dalam suatu hirarki. Pendekatan yang dilakukan dalam AHP adalah analisis permasalahan keputusan kriteria majemuk melalui prinsip-prinsip dekomposisi, analisis perbandingan, dan sintesa prioritas.
Metode AHP diperkenalkan oleh Prof. Thomas Saaty, guru besar pada Wharton School, University of Pensylvania, pada tahun 1977. Kelebihan dari metode ini antara lain ; fleksibel, dalam arti mampu mencakup seluruh permasalahan dengan tujuan dan kriteria yang beragam. Tujuan yang berbeda bisa dikelompokkan dalam satu level dan satu hirarki, dan hirarkinya sendiri sangan fleksibel dan peka terhadap perubahan.
Keuntungan selanjutnya adalah menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Penilaian tidak saja berdasarkan angka absolute melainkan juga relatif (menggunakan skala), menggunakan data primer, sehingga tidak menghadapi masalah ketersediaan data, serta perhitungannya tidak terlalu rumit.
Sifat model AHP adalah menyeluruh, yaitu memasukkan
unsur kuantitatif dan kualitatif. Memasukkan intuisi, sehingga data yang dipergunakan adalah data primer (yang menjadi fakta). Multi objektif, multi kriteria, multi aktor, dengan demikian dalam AHP dimungkinkan tujuan lebih dari satu dengan berbagai kriteria dan pelaku yang bayak. Selanjutnya bersifat ketidakpastian , yaitu tidak tahu jawabannya sebelum data masuk, sifat-sifat ini merupakan keunggulan dari metode AHP.
Aksioma yang dikandung dalam metode AHP adalah reciprocal, pengambil keputusan harus dapat membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya, yang dinyatakan dalam perbandingan baris dan kolom, dimana jika a1 lebih disukai dari a2 dengan skala x, maka a2 lebih disukai dari a1 dengan skala 1/x. Aksioma selanjutnya adalah homogenity, yaitu preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kemudian dependence, yaitu preferensi yang mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif melainkan oleh tujuan secara keseluruhan. Aksioma yang terakhir adalah expectation, yaitu tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap. Secara umum langkah-langkah penggunaan AHP dalam pemecahan masalah dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Mendefenisikan masalah dan menentukan bentuk solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan faktor, kriteria/sub kriteria, intensitas,dan alternatif pada tingkatan hirarki terbawah.
Melalui proses dekomposisi, persoalan yang utuh dipecah menjadi unsur yang terpisah dan dibuat hirarkinya. Jika hasil yang diperoleh ingin lebih akurat maka pemecahan dilakukan sampai unsur-unsur tersebut tidak mungkin dipecah lagi. Membuat hirarki adalah menguraikan realitas menjadi kelompok-kelompok yang homogen, dan menguraikannya menjadi bagian yang lebih kecil. Beberapa keuntungan hirarki antara lain adalah menggambarkan system yang dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana perubahan prioritas pada tingkat di atas akan mempengaruhi tingkat dibawahnya. Kemudian proses ini memberikan informasi yang sangat mendetail tentang struktur dan fungsi system pada tingkat yang rendah dan memberikan gambaran mengenai pelaku dan tujuan pada tingkat diatasnya. Batasan elemen di suatu tingkat, paling baik disajikan pada level selanjutnya. Pada dasarnya system secara alamiah merupakan suatu hirarki yang bersifat stabil dimana sedikit perubahan mempunyai sedikit pengaruh, dan fleksibel dimana
tambahan pada hirarki yang sudah terstruktur dengan baik tidak akan merusak kinerjanya.
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan penilaian dari pengambilan keputusan dengan menilai kepentingan suatu elemen dibandingkan terhadap elemen lainnya. Adapun penilaian pada matriks ini menggunakan skala : 1 = sama penting, 3 = sedikit lebih penting, 5 = lebih penting, 7 = sangat lebih penting, 9 = mutlak.                                                                  4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperolehpenilaian seluruhnya sebanyak n*(n-1)/2, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
5. Menghitung eigenvalue dan menguji konsistensinya. Pada dasarnya matriks ini merupakan operasi eigenvalue dan eigenvector yang biasa disebut problem eigenvalue.
[A]n*n * {w} = λ * {w} Nilai λ dapat diperoleh dari persamaan ( [A]n*n – λ * I ) * {w} = 0
Dan nilai {w} dapat diperoleh dengan mensubtitusi nilai λmax dari persamaan diatas dimana λ adalah eigenvalue dan {w}adalah eigenvector, yang merupakan nilai bobot kriteria
acuan dari n kasus pada suatu subsistem. Jika λmax konsisten maka nilainya sama dengan n, namun untuk melihat ketidakkonsistenan matriks tersebut dinyatakan dalam Consistency Index (CI) :CI = ( λmax – n ) / ( n – 1 ) Selanjutnya dihitung Ratio Consistency (RC) dari persamaan RC = CI / RI Dimana RI adalah Random Index yang merupakan nilai standar. Hasil penilaian suatu matriks dalam pengolahan AHP adalah konsisten apabila nilai CR tidak lebih dari 10%.
6. Mengulangi langkah 3, 4 dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung eigenvector dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai eigenvector merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesakan penilaian dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.
8. Memeriksa konsistensi hirarki, jika nilainya lebih dari 10% maka penilaian data harus diperbaiki. Parameter Consistency Ratio of Hierarchy (CRH) dihitung dari persamaan
CRH = CIH / RIH, CIH adalah Consistency Index of Hierarchy yang didapat dari jumlah perkalian CI dengan bobot criteria acuan. Sedangkan RIH adalah Random Index of Hierarchy yang didapat dari jumlah perkalian RI dengan bobot ktiteria acuan. Secara matematis langkah-langkah tersebut tergantung besaran matriks n yang dihitung. Jika terdapat n kriteria
maka terdapat n buah λ dengan kata lain persamaan pangkat n, dimana hanya λmax saja yang diambil. Langkah ini dapat dihitung manual melalui problem eigenvalue secara sederhana yaitu melalui perbandingan rata-rata. Selain itu terdapat pula program komputer Expert Choice (EC), pada program ini pilihan alternatifnya hanya berjumlah 9. Sehingga
jika pilihan alternatif lebih dari 9 maka harus dibuat suatu hirarki diatas hirarki alternatif yaitu intensitas nilai (misalnya baik, sedang, rendah).

Artikel tentang kriptografi

Minggu, 04 November 2012

Pengertian dan Contoh Kriptografi(Cryptography) dengan Proses Enkripsi dan Dekripsi

Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua suku kata yaitu kripto dan graphia. Kripto artinya menyembunyikan, sedangkan graphia artinya tulisan. Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi, seperti kerahasiaan data, keabsahan data, integritas data, serta autentikasi data .Tetapi tidak semua aspek keamanan informasi dapat diselesaikan dengan kriptografi.
Kriptografi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau seni untuk menjaga keamanan pesan.

Pada prinsipnya, Kriptografi memiliki 4 komponen utama yaitu:
  1. Plaintext, yaitu pesan yang dapat dibaca
  2. Ciphertext, yaitu pesan acak yang tidka dapat dibaca
  3. Key, yaitu kunci untuk melakukan teknik kriptografi
  4. Algorithm, yaitu metode untuk melakukan enkrispi dan dekripsi
Kemudian, proses yang akan dibahas dalam artikel ini meliputi 2 proses dasar pada Kriptografi yaitu:
  1. Enkripsi (Encryption)
  2. Dekripsi (Decryption)
dengan key yang digunakan sama untuk kedua proses diatas. Penggunakan key yang sama untuk kedua proses enkripsi dan dekripsi ini disebut juga dengan Secret Key, Shared Key atau Symetric Key Cryptosystems.
Berikut adalah ilustrasi 4 komponen dan 2 proses yang digunakan dalam teknik kriptografi.
Enkripsi
Enkripsi (Encryption) adalah sebuah proses menjadikan pesan yang dapat dibaca (plaintext) menjadi pesan acak yang tidak dapat dibaca (ciphertext). Berikut adalah contoh enkripsi yang digunakan oleh Julius Caesar, yaitu dengan mengganti masing-masing huruf dengan 3 huruf selanjutnya (disebut juga Additive/Substitution Cipher):

PlaintextCiphertext
rumah
xasgn
motor
suzux
kompor
qusvux
dst…
Dekripsi
Dekripsi merupakan proses kebalikan dari enkripsi dimana proses ini akan mengubah ciphertext menjadi plaintext dengan menggunakan algortima ‘pembalik’ dan key yang sama. Contoh:

CiphertextPlaintext
xasgn
rumah
suzux
motor
qusvux
kompor
dst…


Contoh Cryptography

Data Asal = “ RUMAH “
     Key = 7 
Data Acak ?

Minggu, 31 Mei 2015

Quiz Online Sistem Pendukung Keputusan

 Alternatif
Kriteria
C1
C2
C3
C4
Hendro
3
4
1
2
Joko
2
5
1
2
Doni
2
3
2
2
Dono
3
4
4
2
Kasino
2
3
2
2


V1 = √32 + 22 + 22 + 32 + 22 = 5,477             V3 = √12 + 12 + 22 + 42 + 22 = 5,099
R11 = 3/5,477 = 0,547                                    R13 = 1/5,099 = 0,196
R21 = 2/5,477 = 0,365                                    R23 = 1/5,099 = 0,196
R31 = 2/5,477 = 0,365                                    R33 = 2/5,099 = 0.392
R41 = 3/5,477 = 0,547                                    R43 = 4/5,099 = 0,784
R51 = 2/5,477 = 0,365                                    R53 = 2/5,099 = 0,392      

V2 = √42 + 52 + 32 + 42 + 32 = 8,66                V4 = √12 + 12 + 22 + 42 + 22 = 4,472
R12 = 4/8,66 = 0,461                                       R14 = 2/4,472 = 0,447
R22 = 5/8,66 = 0,577                                       R24 = 2/4,472 = 0,447
R32 = 3/8,66 = 0,346                                       R34 = 2/4,472 = 0,447
R42 = 4/8,66 = 0,461                                       R44 = 2/4,472 = 0,447
R52 = 3/8,66 = 0,346                                       R54 = 2/4,472 = 0,447

Matrik R
0,547   0,461   0,196  0,477
0,356   0,577   0,196  0,477
0,365   0,346   0,392  0,477
0,547   0,461   0,784  0,477
0,365   0,346   0,392  0,477
                                                           
Y11 = W. r11  = 4 * 0,547 = 2,188                            Y13 = W. r13= 4 * 0,196 = 0,784
Y21 = W. r21 = 4 * 0,365 = 1,46                              Y23 = W. r23 = 4 * 0,196 = 0,784
Y31 = W. r31 = 4*  0,365 = 1,46                              Y33 = W. r33 = 4*  0,392 = 1,568
Y41 = W. r41 = 4*  0, 537 = 2,186                           Y43 = W. r43 = 4*  0,784 = 3,316
Y51 = W. r51 = 4 * 0,365 = 1,46                              Y53 = W. r53 = 4 * 0,39 = 1,56

Y12 = W. r12  = 5*0,461= 2,305                               Y14 = W. r14= 3 *0,447 = 1,341
Y22 = W. r22=5*0,577= 2,305                                 Y24 = W. r24 = 3 *0,447 = 1,341
Y 32 = W. r32 = 5*0,346= 1,73                                Y34 = W. r34 = 3*0,477 = 1,341
Y42 = W. r42 = 5*0, 461= 2,305                              Y44 = W. r44 = 3*0,477 =1,341
Y52 = W. r52 = 5*0,346= 1,73                                 Y54 = W. r54 = 3* 0,477= 1,341

Matrik y
2,188    2,305   0,784   1,341
1,46      2,885   0,784   1,341
1,46      1,73     1,568   1,341
1,186    2,305   3,136   1,341
1,146    1,73     1,56     1,341

Y1+= max=2,186                                                    Y1- = min = 1,146
Y2+=max=2,885                                                     Y2- = min = 1,73
Y3+=max=3,136                                                     Y3- = min = 0,784
Y4+=max=1,341                                                     Y4- = min = 1,341
A+=  { 2,186 ; 2.885 , 3,136, 1,341 }                     A-  =  { 1,146 ; 1,73 ; 0,784 ; 1,341 }


D1+ = (2,188 – 2,186)2 + (2,305 – 2,885)2 + (0,784 – 3,136)2 + (1,341 – 1,341)2
       = 5,870
D2+ = (1,46 – 2,186)2 + (2,885 – 2,885)2 + (0,784 – 3,136)2 + (1,341 – 1,341)2
       = 4,805
D3+ = (1.46 – 2,186)2 + (1,73 – 2,885)2 + (1,568 – 3,136)2 + (1,341 – 1,341)2
       = 3,006
D4+ = (2,186 – 2,186)2 + (2,305 – 2,885)2 + (3,136 – 3,136)2 + (1,341 – 1,341)2
       = 0,336
D5+ = (1,146 – 2,186)2 + (1,73 – 2.885)2 + (1,56 – 3,136)2 + (1,341 – 1,341)2
       = 2,777

D1-  = (2,188 – 1,146)2 + (2,305 – 1,73) 2  + (0,784 – 0,784)2 + (1,341 – 1,341)2
          = 1,372
D2-  = (1,46 – 1,46)2 + (2,885 – 1,73) 2  + (0,784 – 0,784)2 + (1,341 – 1,341)2
          = 3,244
D3-  = (1,146 – 1,146)2 + (1,73 – 1,73) 2  + (1,568 – 0,784)2 + (1,341 – 1,341)2
          = 0,928
D4-  = (2,186 – 1,146)2 + (2,305 – 1,73) 2  + (3,136 – 0,784)2 + (1,341 – 1,341)2
          = 6,902
D5-  = (1,146 – 1,146)2 + (1,73 – 1,73) 2  + (1,56 – 0,784)2 + (1,341 – 1,341)2
          = 0,602


V1 = 1,372 / (1,372 + 5,870) = 0,189

V2 = 3,244 / (3,244 + 4,805) = 0,403

V3 = 0,928  / (0,928 + 3,066) = 0,232

V4 = 6,902 / (6,902 + 0,336) = 0,953
V5 = 0,602 / (0,602 + 2,777) = 0,178